41% paparan radikalisme melibatkan usia 15–25 tahun yang mencari-cari arti “menjadi muslim sejati”, sementara kurikulum pendidikan agama masih dikotomi (sains terpisah agama), membuat pemuda bingung menyelaraskan logika sains dengan iman spiritual, menciptakan vakum spiritual yang diisi narasi radikal transnasional (HTI, Wahabi) yang menawarkan “identitas Islam murni” berseragam, terstruktur, dan memukau. Terparah, 70% pemuda muslim Indonesia belum menemukan jembatan antara sains modern dan agama, sehingga banyak yang memilih ekstrim: sekularis (agama dikesampingkan) atau fundamentalis (menolak sains, jadi ahistoris dan intoleran). Saat bersamaan, program deradikalisasi pemerintah masih fokus operasi polisi tanpa menawarkan narasi Islam moderat yang menarik, inovatif, dan memberikan identitas muslim yang bangga tapi terbuka—justru radikal terasa lebih “authentic” dibanding Islam mainstream yang hambar.
Krisis Berlapis: Dikotomi Sains-Agama, Pencarian Identitas Remaja, dan Kekosongan Narasi Moderat
Pertama, dikotomi sains-agama dalam pendidikan: Sistem pendidikan nasional masih memisahkan “ilmu pengetahuan” (sains, matematika, sosial) dari “pendidikan agama Islam” seolah dua dunia berbeda, padahal Al-Qur’an sendiri mengajak berpikir ilmiah tentang alam ciptaan sebagai bentuk spiritualitas. Akibatnya, mahasiswa muda belajar biologi evolusi tanpa tahu bagaimana Islam memandang asal-usul kehidupan, mempelajari ekonomi kapitalisme tanpa nilai syariah, atau sains alam tanpa menghayati kehidupan spiritual sebagai integritas. Hasilnya: mahasiswa bingung, 60% merasa tercerai antara logika sains (rasional) dan hati agama (spiritual), lalu mudah radikalisme menawarkan “totalisme”—agama jadi ideologi tunggal, sains jadi senjata propaganda.
Kedua, pencarian identitas kemusliman di era digital dan pluralisme: Pemuda muslim usia 15–25 tahun hidup dalam multiple identities—Indonesia, Asia, Muslim, Gen Z global—mencari “siapa aku sebenarnya dalam Islam?” Di saat yang sama, media sosial membanjiri berbagai versi Islam: moderate (NU, Muhammadiyah) yang terasa usang dan “tidak pure”, fundamentalis (HTI, Hizbuttahrir, Wahabi) yang bersih, punya metodologi, memberikan “identitas jelas”, dan membujuk dengan romantisme “khilafah”, “jihad”, “kembali ke Islam asli”. 41% paparan radikalisme usia 15–25 tahun, 68% via medsos, terjadi karena vakum narasi Islam moderat yang menarik dan memberdayakan—Islam mainstream terasa tertinggal di dunia pre-digital, sementara radikal piawai digital marketing.
Ketiga, kekosongan program deradikalisasi yang menawarkan jalan keluar positif: Strategi pemerintah masih dominan operasi keamanan (Densus 88, penangkapan) vs program pembinaan napi teror, jarang menawarkan alternatif identitas muslim yang kuat, moderasi yang inspiratif, sains-agama terintegrasi yang memberdayakan secara spiritual-intelektual. Pemuda yang tertarik radikalisme membutuhkan “sense of belonging” plus “sense of purpose”—apa yang ditawarkan organisasi radikal—tapi tidak ada lembaga pendidikan agama Islam mainstream yang menawarkan paket serupa dengan konten moderat.
Solusi Terintegrasi: Islam Moderat yang Sains-Literat dan Sosial-Empatik
STAI Mujtahadah memahami bahwa deradikalisasi sejati bukan penindasan tapi edukasi, bukan instruksi authoritarian tapi pemberdayaan intelektual-spiritual yang menarik pemuda memilih Islam moderat dengan conscious choice, bukan terpaksa.
STAI Mujtahadah menjawab krisis dengan empat pilar strategis:
Pertama, Pendidikan Islam Terintegrasi Sains dan Humanisme: Program Pendidikan Islam STAI Mujtahadah tidak mengajar agama in vacuo, melainkan mengintegrasikan ilmu sains, sains sosial, teknologi, dan filsafat ke dalam pemahaman Islam, sehingga mahasiswa memahami Qur’an sebagai kitab sains dan spiritualitas sekaligus—misalnya, mata kuliah “Tafsir Sains” menganalisis ayat-ayat tentang alam (embrio, galaksi, logika alam) secara ilmiah sekaligus spiritual, atau “Ekonomi Islam” tidak teoritis tapi aplikatif terhadap tantangan kapitalisme dan keadilan sosial modern. Pendekatan ini menghasilkan mahasiswa yang berpikir ilmiah (tidak tertarik pseudosains radikal) sekaligus beriman kuat (tidak sekularis), yang memahami Qur’an sebagai sumber hikmah untuk kemajuan.
Kedua, Penciptaan Narasi Islam Moderat yang Dinamis dan Digital-Native: STAI Mujtahadah melatih mahasiswa jadi da’i moderat berjiwa muda, punya skill digital, media literacy tinggi, dan pemahaman mendalam tentang Islam tapi berpikiran terbuka. Lulusan STAI Mujtahadah dibekali kemampuan memproduksi konten dakwah yang menarik (podcast, video, infografis, artikel panjang) yang menceritakan Islam moderat bukan sebagai “compromise” tapi sebagai “kehidupan yang kaya, bermakna, dan memberdayakan”—menampilkan tokoh ulama moderat inspiratif, cerita nyata muslim yang sukses dunia-akhirat, dan menunjukkan Islam moderat bukan lemah tapi lebih kuat karena tidak perlu kekerasan. Dengan jaringan alumni yang menyebar di medsos, organisasi kemasyarakatan, dan pendidikan, STAI Mujtahadah ciptakan counter-narrative ekosistem yang organic dan attractive, bukan top-down propaganda.
Ketiga, Penelitian dan Pengembangan Ilmu tentang Moderasi, Deradikalisasi, dan Identitas Muslim: STAI Mujtahadah mendorong mahasiswa dan dosen melakukan mini-riset tentang “bagaimana pemuda mencari identitas muslim?”, “efektivitas narasi moderat vs radikal”, “integrasi sains-agama dalam mentransmisi nilai”, menghasilkan evidence-based solutions untuk deradikalisasi yang bukan hanya moralisasi. Penelitian ini dipublikasikan di media massa dan dibagikan ke pemerintah, organisasi agama, dan komunitas, memperkuat gerakan intelektual deradikalisasi nasional.
Keempat, Pengabdian Masyarakat Berbasis Pemberdayaan Sosial-Spiritual: STAI Mujtahadah tidak hanya “mengajar” tapi turun ke lapangan: pelatihan literasi untuk ibu-ibu di pesantren, pelatihan digital untuk guru agama di desa, program mentoring untuk pemuda rawan radikalisme, dan pemberdayaan UMKM Islami yang memberikan sense of purpose ekonomis. Melalui program “Islamic Social Enterprise”, mahasiswa STAI Mujtahadah belajar bagaimana Islam mengajarkan pemberdayaan sosial-ekonomi yang adil dan berkelanjutan, bukan hanya dakwah doktriner. Dengan cara ini, Islam moderat terasa konkret, memberdayakan, dan lebih menarik dibanding janji utopia radikal


Leave a Reply