BNPT mencatat 6.402 konten radikalisme dan terorisme di media sosial hingga Agustus 2025, dengan propaganda menyusup ke masjid dan platform digital menarget Gen Z. Kasus intoleransi naik menjadi 260 peristiwa pada 2024, termasuk perusakan rumah ibadah dan kekerasan berbasis agama seperti kematian siswa SD di Riau akibat perundungan. Kelompok radikal manfaatkan Instagram untuk kampanye anti-bid’ah dan narasi ekstrem, geser pemahaman moderat Islam Nusantara.
Ancaman Media Sosial dan Polarisasi
Instagram jadi arena utama penyebaran wacana radikal via akun seperti Indonesia Bertauhid, dengan self-radicalization lone-wolf tingkatkan risiko. Polarisasi pasca-pemilu perburuk intoleransi, dipicu kemiskinan, diskriminasi, dan celah pendidikan agama. BNPT perkuat Indikator Pencegahan Radikalisme 2025 untuk deteksi dini, tapi tantangan internal agama seperti konservatisme tetap ada.
Strategi Moderasi Berbasis Dakwah dan Penelitian
Dakwah moderat via media sosial lawan narasi radikal dengan literasi digital dan pengawasan konten. Penguatan pendidikan Islam humanis, penelitian keilmuan, dan pengabdian masyarakat bentuk imunitas terhadap ekstremisme. Sinergi NU-Muhammadiyah, pemerintah, dan Polri dorong dialog antaragama serta deradikalisasi.
Peran Ulama dan Akademisi dalam Pembangunan Karakter
Generasi muslim moderat butuh kajian ilmiah Islam terpadu untuk tolak radikalisme dan liberalisme berlebih. Pengabdian masyarakat aktualisasikan nilai Islam rahmatan lil alamin, ciptakan harmoni sosial. Kolaborasi ini bangun peradaban adil, etis, dan siap tantang zaman digital.


Leave a Reply