Krisis Karakter Remaja dan Intoleransi di Era Digital: Misi Kampus Islam STAI Mujtahadah

Indonesia sedang menghadapi krisis pendidikan karakter yang mengkhawatirkan, dengan maraknya kekerasan pelajar, perundungan ekstrem, penyalahgunaan narkoba, dan hilangnya rasa hormat terhadap guru bahkan di tingkat SD. Fenomena ini diperburuk oleh pengaruh media sosial yang negatif, di mana budaya digital sering menumbuhkan individualisme, hedonisme, dan batas moral yang kabur di kalangan Gen Z dan Alpha.

Kasus intoleransi beragama juga meningkat, termasuk kekerasan antar pelajar berbasis perbedaan keyakinan yang berujung tragis, seperti kematian siswa SD di Indragiri Hulu akibat perundungan agama. Laporan lembaga hak asasi mencatat delapan kasus intoleransi sepanjang 2025, menunjukkan rapuhnya toleransi dan empati di kalangan remaja yang terpapar narasi hitam-putih di platform digital.

Peran Strategis Pendidikan Islam Moderat

Pendidikan Islam di perguruan tinggi menjadi kunci mengatasi krisis ini melalui penguatan moderasi beragama, yang menanamkan nilai kemanusiaan, toleransi, dan dialog damai tanpa mengorbankan akidah. Kampus Islam seperti PTKIN telah membuktikan bahwa praktik moderasi dapat menciptakan lingkungan harmonis, menolak kekerasan, dan memupuk empati lintas budaya melalui kegiatan sosial dan pelatihan mediasi.

Pendekatan ini sejalan dengan Islam wasathiyah: teguh dalam prinsip, ramah dalam interaksi, dan bijak menyikapi perbedaan, sehingga mampu menangkal radikalisme digital dan membangun karakter yang beretika serta inklusif.

STAI Mujtahadah: Benteng Karakter Islami

STAI Mujtahadah memposisikan diri sebagai pusat pendidikan Islam yang mengintegrasikan ilmu agama dengan modernitas, melalui pilar pendidikan, penelitian, dan pengabdian masyarakat untuk membentuk generasi muslim moderat dan berpikir kritis. Lingkungan religius dengan dosen teladan seperti Ust. Ahmad Fauzi menanamkan nilai spiritual sejak awal, sementara testimoni alumni seperti Siti Aisyah menegaskan bagaimana kampus membentuk akhlak tanpa mengorbankan wawasan ilmiah.

Melalui pembelajaran interaktif dan pengabdian sosial, STAI Mujtahadah menyiapkan mahasiswa menjadi pendidik, da’i, dan inovator yang siap menangkal krisis karakter dengan dakwah humanis dan riset keislaman kontemporer.

Solusi Holistik dari Kampus Islam

Untuk mengatasi krisis, kampus Islam perlu:

  • Integrasi moderasi beragama dalam kurikulum untuk melatih dialog dan empati digital.
  • Kolaborasi tripusat pendidikan (keluarga-sekolah-masyarakat) guna menangkal pengaruh toksik media sosial.
  • Penelitian inovatif tentang Islam moderat untuk kontra-narasi intoleransi di ruang digital.

STAI Mujtahadah siap memimpin misi ini, mengubah tantangan krisis menjadi peluang membangun peradaban Islami yang rahmatan lil alamin.

Oleh: Dr. H. Muhammad Arifin, M.Ag.
Ketua STAI Al-Mujtahadah

Categories:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *