Radikalisasi Digital dan Krisis Moderasi Beragama

Indonesia lagi goyah di tengah badai radikalisasi online dan intoleransi yang makin marak, dengan hoaks agama picu konflik dan pemuda terpapar dakwah ekstrem via TikTok setiap hari—laporan Setara Institute catat lonjakan pelanggaran kebebasan beragama 30% tahun ini. STAI Mujtahadah jawab tantangan itu lewat pendidikan Islam humanis yang padu ilmu modern, penelitian, dan pengabdian—bukan sekadar hafalan tapi amal nyata buat umat damai.

Medsos Jadi Ladang Radikal, Pemuda Gampang Terjebak

Hoaks keagamaan nyebar kenceng: ayat dipotong konteks buat provokasi, bikin ribut antar mazhab atau antar agama, sementara Gen Z yang scroll 7 jam sehari gampang kepincut narasi hitam-putih. Di kampus-kampus, kasus mahasiswa terpikat kelompok radikal naik 25%, apalagi pas pilkada panas kemarin—moderasi beragama yang digaungkan Kemenag malah mentok di retorika doang.

Tanpa pemahaman mendalam, pemuda gampang jadi alat politik agama, bukan agen perubahan yang tawazun dan tasamuh seperti ajaran Islam sejati.

Ilmu Agama Dangkal, Karakter Mulai Ambruk

Krisis moral pemuda tambah parah: tawuran antar kampus, korupsi mahasiswa, dan etika longgar gara-gara pendidikan agama cuma ritual hafalan, bukan pembentuk akhlak. Survei BRIN bilang 65% generasi muda paham Islam sebatas medsos, minim kajian kritis soal isu kontemporer seperti lingkungan atau hak minoritas.

Pendidikan Islam kita butuh revolusi: gabung tarbiyah dengan sains dan sosial, biar lulusan jadi da’i yang relevan, bukan terbelakang zaman.

STAI Mujtahadah: Ilmu, Iman, dan Aksi Lapangan Jadi Satu

Kampus ini spesial: program Pendidikan Islam siapin guru dan da’i moderat via kurikulum terpadu, penelitian dorong inovasi seperti dakwah anti-hoaks, sementara pengabdian masyarakat langsung turun desa pemberdayaan umat. Dosen seperti Ust. Ahmad Fauzi bukan cuma ngajar tapi tanam moral, alumni Siti Aisyah bilang berpikir ilmiah tanpa lepas spiritual—cocok jawab krisis hari ini.

Mahasiswa seperti M. Ridwan dapet lingkungan motivatif buat kritis dan sosial, hasilnya generasi muslim unggul yang moderat dan berperan bangun peradaban adil.

Waktunya Umat Moderat Ambil Kendali, Bukan Jadi Korban Hoaks

Krisis radikalisasi dan moral ini peluang STAI Mujtahadah cetak ilmuwan muslim yang humanis—dari kelas ke masyarakat, bikin Indonesia rahmat bukan bom waktu. Bergabunglah, bangun peradaban dengan ilmu dan iman, satu langkah demi perubahan nyata.

Categories:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *