Banyak orang salah kaprah. Mereka pikir kuliah di kampus Islam berarti hanya duduk diam, menghafal teks kuno, dan menjauh dari hiruk-pikuk dunia.
Di STAI Mujtahadah Pekanbaru, kami membongkar stigma itu.
Nama “Mujtahadah” diambil dari akar kata Ijtihad—sebuah kerja keras intelektual untuk menemukan solusi. Di era disrupsi ini, kita tidak butuh lulusan yang hanya bisa “mengekor” pada sistem yang sudah ada. Kita butuh individu yang “lapar” akan ilmu dan “berbahaya” dalam artian memiliki ketajaman berpikir untuk merombak tatanan ekonomi dan pendidikan yang kaku.
1. Ekonomi Syariah: Bukan Sekadar Label “Halal”
Kita sedang bosan dengan sistem ekonomi yang hanya memperkaya segelintir orang. Namun, Ekonomi Syariah bukan sekadar soal mengganti istilah bunga menjadi bagi hasil. Di STAI Mujtahadah, kami mendidik mahasiswa untuk menjadi Financial Architect. Bagaimana membangun ekosistem bisnis yang adil, berbasis digital, namun tetap memiliki akar moral yang kuat? Jika Anda ingin menjadi pengusaha yang mapan tanpa harus menjual integritas, di sinilah tempatnya.
2. Pendidikan Agama Islam (PAI): Menjadi Influencer Peradaban
Guru PAI masa depan tidak boleh lagi membosankan. Di era TikTok dan AI, seorang pendidik agama harus mampu menjadi storyteller yang hebat. Di kampus ini, kami mengasah kemampuan Anda untuk menerjemahkan nilai-nilai langit menjadi bahasa bumi yang dimengerti generasi Z. Kami mencetak pendidik yang tidak hanya mengajar di kelas, tapi mampu menggerakkan opini publik melalui literasi digital.
3. Melawan Arus Mediokritas di Pekanbaru
Pekanbaru adalah kota yang dinamis. Menjadi mahasiswa di STAI Mujtahadah berarti Anda siap menjadi bagian dari elit intelektual Riau yang tidak hanya pintar secara akademis, tapi juga cerdas secara emosional dan spiritual. Kami tidak menjanjikan ijazah untuk sekadar “mencari kerja”, kami menawarkan bekal untuk “menciptakan makna”.
4. Ijtihad di Era Digital
Mengapa harus STAI Mujtahadah? Karena kami percaya bahwa Islam adalah agama yang progresif. Kami mendorong mahasiswa untuk berani berdiskusi, berani berbeda pendapat, dan berani mengaplikasikan nilai-nilai Islam dalam konteks teknologi modern. Di sini, tradisi dan masa depan bersalaman dengan erat.
Kesimpulan: Pilih Senjatamu
Dunia sedang tidak baik-baik saja, dan ia membutuhkan pahlawan baru. Apakah Anda akan tetap menjadi penonton yang pasif, atau Anda akan mengasah “senjata” intelektual Anda bersama kami?
Jangan hanya jadi sarjana yang mediocre. Jadilah seorang Mujtahid—seorang pejuang yang berpikir, bergerak, dan membawa perubahan.


Leave a Reply