Jalan Tengah Islam dalam Menghadapi Ekstremisme dan Liberalisme

STAI Al-Mujtahadah – Di tengah dinamika kehidupan beragama yang semakin kompleks, umat Islam dihadapkan pada dua kutub ekstrem yang sama-sama mengancam: fundamentalisme yang kaku di satu sisi, dan liberalisme yang terlalu permisif di sisi lain. Dalam konteks inilah, konsep moderasi beragama atau wasathiyyah menjadi sangat relevan dan mendesak untuk dipahami serta dipraktikkan.

Wasathiyyah: Ajaran Inti Islam

Allah SWT berfirman dalam Al-Quran Surah Al-Baqarah ayat 143: “Dan demikian pula Kami telah menjadikan kamu (umat Islam) umat pertengahan (wasathan) agar kamu menjadi saksi atas (perbuatan) manusia.”

Konsep wasathiyyah atau moderasi bukanlah konsep baru dalam Islam. Ini adalah karakteristik fundamental yang telah diajarkan sejak masa Rasulullah SAW. Moderasi beragama berarti mengambil jalan tengah yang adil, tidak ekstrem ke kanan maupun ke kiri, serta mengamalkan Islam dengan bijaksana sesuai konteks zaman.

Dua Tantangan Ekstrem

1. Fundamentalisme dan Radikalisme

Di satu spektrum, kita menyaksikan munculnya kelompok-kelompok yang mengklaim memiliki kebenaran tunggal dan menolak segala bentuk penafsiran lain. Mereka cenderung:

  • Menganggap perbedaan pendapat sebagai ancaman
  • Bersikap eksklusif dan mudah mengkafirkan orang lain
  • Mengabaikan konteks sosial-budaya dalam memahami ajaran
  • Menggunakan kekerasan atau intimidasi untuk memperjuangkan pandangan mereka
  • Menolak moderasi sebagai bentuk “kompromi” terhadap prinsip agama

Fundamentalisme semacam ini tidak hanya merusak citra Islam di mata dunia, tetapi juga menciptakan perpecahan internal umat dan menghambat kemajuan masyarakat Muslim.

2. Liberalisme Keagamaan yang Berlebihan

Di spektrum lain, ada kelompok yang terlalu liberal dalam menafsirkan ajaran Islam hingga mengaburkan batasan-batasan yang telah jelas (qath’i). Mereka cenderung:

  • Menganggap semua ajaran agama bersifat relatif dan dapat diubah sesuai selera
  • Mengabaikan konsensus ulama (ijma’) dan metodologi klasik
  • Menyamakan semua agama tanpa memahami esensi keimanan
  • Mengorbankan nilai-nilai sakral demi akomodasi budaya populer
  • Menafikan eksistensi kebenaran objektif dalam agama

Liberalisme yang berlebihan ini dapat mengikis identitas keislaman dan membuat ajaran agama kehilangan substansi serta relevansinya sebagai pedoman hidup.

Prinsip-Prinsip Moderasi Beragama

Moderasi beragama yang sejati dibangun atas beberapa prinsip fundamental:

1. Keseimbangan (Tawazun)

Islam mengajarkan keseimbangan dalam segala aspek kehidupan: antara dunia dan akhirat, hak dan kewajiban, individu dan masyarakat, materi dan spiritual. Seorang Muslim moderat tidak mengabaikan urusan duniawi dengan dalih fokus pada akhirat, dan tidak pula tenggelam dalam kemewahan dunia hingga lupa pada tujuan hidup yang hakiki.

2. Keadilan (I’tidal)

Moderasi menuntut keadilan dalam menilai dan bertindak. Tidak mudah menghakimi orang lain, memberi kesempatan mendengar, dan mempertimbangkan berbagai perspektif sebelum mengambil kesimpulan. Keadilan juga berarti tidak memaksakan pandangan pribadi kepada orang lain.

3. Kemudahan (Taysir)

Rasulullah SAW bersabda: “Mudahkanlah dan jangan mempersulit, gembirakanlah dan jangan membuat lari.” Islam adalah agama yang membawa rahmat dan kemudahan, bukan kesulitan. Moderasi beragama menghindari sikap mempersulit dan memaksakan beban yang berat kepada umat.

4. Toleransi (Tasamuh)

Islam mengajarkan toleransi terhadap perbedaan, baik dalam internal umat Islam maupun dengan pemeluk agama lain. Toleransi bukan berarti mengaburkan prinsip, tetapi menghormati hak setiap orang untuk memiliki keyakinan dan pandangan yang berbeda.

5. Inovasi (Tajdid)

Moderasi beragama terbuka terhadap pembaruan dan inovasi yang tidak bertentangan dengan prinsip-prinsip dasar Islam. Umat Islam dituntut untuk kreatif dan inovatif dalam merespons tantangan zaman tanpa kehilangan identitas keislaman.

Peran Institusi Pendidikan Islam

Dalam konteks ini, lembaga pendidikan tinggi Islam seperti STAI Al-Mujtahadah memiliki peran strategis dalam menanamkan nilai-nilai moderasi beragama. Melalui pendekatan akademik yang kritis namun tetap berpegang pada tradisi keilmuan Islam yang kuat, mahasiswa dilatih untuk:

Berpikir Kritis dan Terbuka

Kemampuan menganalisis berbagai pendapat ulama, memahami konteks historis sebuah pemikiran, dan mengevaluasi argumen secara objektif adalah keterampilan penting yang harus dimiliki sarjana Muslim modern.

Menghargai Khilafiyah (Perbedaan Pendapat)

Dalam tradisi Islam, perbedaan pendapat di kalangan ulama adalah sesuatu yang natural dan bahkan dianggap sebagai rahmat. Mahasiswa perlu memahami bahwa dalam banyak persoalan, terdapat lebih dari satu pandangan yang valid dan dapat dipertanggungjawabkan secara syar’i.

Memahami Konteks

Kemampuan membedakan antara ajaran yang bersifat universal (tsawabit) dan yang bersifat kontekstual (mutaghayyirat) sangat penting. Mahasiswa dilatih untuk memahami bahwa implementasi ajaran Islam dapat bervariasi sesuai konteks sosial-budaya tanpa mengubah esensi ajaran itu sendiri.

Komunikasi yang Santun

Cara menyampaikan kebenaran sama pentingnya dengan kebenaran itu sendiri. Islam mengajarkan qaulan karima (perkataan yang mulia), qaulan ma’rufa (perkataan yang baik), dan qaulan sadida (perkataan yang benar). Mahasiswa dilatih untuk menyampaikan pandangan dengan santun dan menghormati lawan bicara.

Moderasi dalam Praktik Kehidupan

Moderasi beragama bukan hanya konsep teoritis, tetapi harus diterjemahkan dalam kehidupan sehari-hari:

Dalam Beribadah

Konsisten menjalankan kewajiban agama tanpa sikap riya’ (pamer) atau ghuluw (berlebihan). Rasulullah SAW bahkan melarang sahabat yang ingin berpuasa setiap hari atau shalat sepanjang malam tanpa tidur.

Dalam Bermuamalah

Bersikap jujur dalam transaksi ekonomi, menghormati hak-hak konsumen dan pekerja, serta menjunjung tinggi etika bisnis Islam. Moderasi berarti tidak mengejar keuntungan dengan cara yang merugikan orang lain.

Dalam Bermasyarakat

Aktif berkontribusi untuk kemajuan masyarakat tanpa memandang latar belakang agama atau suku. Menjadi Muslim yang memberikan manfaat (khayrukum anfa’ukum linnas – sebaik-baik kalian adalah yang paling bermanfaat bagi manusia).

Dalam Berpolitik

Berpolitik dengan etika, mengedepankan kepentingan rakyat di atas kepentingan kelompok, dan tidak menggunakan agama sebagai alat untuk meraih kekuasaan atau memecah belah bangsa.

Tantangan Mewujudkan Moderasi

Mewujudkan moderasi beragama bukanlah perkara mudah. Beberapa tantangan yang dihadapi:

  1. Polarisasi Informasi – Media sosial cenderung menciptakan echo chamber yang memperkuat pandangan ekstrem dan meminggirkan suara-suara moderat.
  2. Politisasi Agama – Penggunaan sentimen keagamaan untuk kepentingan politik menciptakan ketegangan dan mempersulit dialog yang konstruktif.
  3. Literasi Keagamaan yang Rendah – Banyak umat yang mendapatkan pengetahuan agama dari sumber yang tidak kredibel, sehingga mudah terpengaruh oleh pandangan ekstrem.
  4. Krisis Kepercayaan terhadap Ulama – Sebagian masyarakat mulai meragukan otoritas ulama tradisional dan lebih percaya pada “ustadz” media sosial yang belum tentu memiliki kapasitas keilmuan yang memadai.

Jalan ke Depan

Membangun Islam moderat membutuhkan upaya kolektif dari berbagai pihak:

  • Institusi pendidikan harus terus mencetak sarjana Muslim yang memiliki keilmuan kuat dan karakter moderat
  • Ulama dan da’i perlu menyampaikan Islam dengan cara yang sejuk, inklusif, dan relevan dengan konteks zaman
  • Pemerintah mendukung program-program moderasi beragama tanpa mengintervensi urusan internal agama
  • Media bertanggung jawab menyajikan narasi keislaman yang seimbang dan mendidik
  • Setiap Muslim berkomitmen untuk menjadi teladan moderasi dalam kehidupan sehari-hari

Penutup

Moderasi beragama bukanlah kompromi terhadap prinsip Islam, melainkan implementasi ajaran Islam yang paling autentik. Ia adalah jalan tengah yang bijaksana antara ekstremisme yang rigid dan liberalisme yang permisif. Ia adalah Islam yang rahmatan lil ‘alamin—rahmat bagi seluruh alam.

STAI Al-Mujtahadah berkomitmen mencetak generasi sarjana Muslim yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga bijak dalam mengamalkan ajaran Islam. Generasi yang mampu menjadi jembatan antara tradisi dan modernitas, antara universalitas nilai Islam dan kekhasan konteks lokal.

Seperti yang difirmankan Allah dalam Al-Quran: “Serulah (manusia) kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pengajaran yang baik, dan berdebatlah dengan mereka dengan cara yang baik.” (QS. An-Nahl: 125)

Categories:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *