Banjir Sumatera: Fakta Mengerikan
Banjir dan longsor sejak akhir November 2025 telah menewaskan 1.059 orang, 192 hilang, dan melukai 7.000 jiwa di Aceh, Sumut, Sumbar, dengan kerugian triliunan rupiah dari rumah rusak, jembatan roboh, dan lahan pertanian tenggelam. Lebih 95% bencana hidrometeorologi seperti ini dipicu krisis iklim dan ulah manusia seperti alih fungsi lahan ekstraktif, meninggalkan desa terisolasi tanpa air bersih atau layanan kesehatan.
Krisis Ekologis: Akar Masalah Manusia
Kerusakan hutan tropis dan konflik korporasi-adat memicu longsor mematikan, di mana 80% banjir disebabkan degradasi lingkungan bukan hujan semata. Represi politik ikut memperburuk: 104 aktivis HAM diserang polisi sepanjang 2025, termasuk penembakan petani Bengkulu, sementara kelas menengah terjepit inflasi 2,21% dan PPN 12%.
Peran Islam: Dakwah Mitigasi Bencana
Islam ajarkan mitigasi melalui Al-Mau’idza Al-Hasanah (nasihat lembut), bil-hikmah (kebijaksanaan), dan bil-hal (aksi nyata), seperti gotong royong pascatsunami Aceh yang jadi teladan global. MUI dorong ulama bangun kesadaran ekologis akar rumput, kolaborasi sains-religi cegah degradasi, sesuai fatwa bahwa krisis lingkungan panggilan moral umat.
STAI Mujtahadah: Benteng Generasi Mujtahid
STAI Mujtahadah jawab krisis dengan tiga pilar: pendidikan Islam terpadu ciptakan da’i ekologis, riset inovasi keislaman-sains atasi deforestasi, dan pengabdian masyarakat via dakwah trauma healing pascabencana. Seperti Ust. Ahmad Fauzi tekankan nilai keislaman fondasi moral, alumni Siti Aisyah bangun pemikiran ilmiah-spiritual, dan mahasiswa M. Ridwan turun lapangan pemberdayaan—siap ubah banjir hoaks jadi peradaban adil.
Solusi Praktis: Bergabung Sekarang
Mulai dari pelatihan literasi ekologis digital lawan hoaks bencana, riset fatwa anti-deforestasi, hingga aksi pengabdian desa Sumatera—STAI Mujtahadah bentuk muslim moderat tangguh. Daftar hari ini, jadi agen perubahan ilmu-iman selamatkan Indonesia dari krisis 2025.


Leave a Reply