Menghidupkan Semangat Ijtihad di Era Scrolling: Dakwah di Ruang Digital

Sekolah Tinggi Agama Islam (STAI) Mujtahadah didirikan di atas semangat Ijtihad—upaya sungguh-sungguh untuk merumuskan hukum dan solusi Islam atas masalah kontemporer. Di masa lalu, Ijtihad dilakukan di majelis ilmu yang sunyi; kini, medan pertempuran gagasan telah pindah ke layar smartphone kita.

Setiap hari, miliaran informasi keagamaan beredar cepat di media sosial—dari quotes inspiratif hingga fatwa instan. Pertanyaannya: Bagaimana peran sarjana STAI Mujtahadah dalam memastikan suara kebenaran, kearifan, dan metodologi Ahlussunnah wal Jama’ah mendominasi ruang digital yang serba cepat ini?

💡 Dari Kitab Kuning ke Konten Digital: Peran Baru Mujtahid Masa Kini
Lulusan STAI Mujtahadah tidak cukup hanya menguasai literatur klasik. Mereka harus menjadi Juru Bicara Agama yang Cerdas Digital. Inilah tiga peran krusial yang harus dihidupkan:

  1. Mujtahid Konten: Menghadirkan Solusi Islami yang Relevan
    Tantangan: Banyak masalah baru muncul yang tidak ditemukan secara eksplisit dalam kitab klasik, seperti etika online gaming, hukum cryptocurrency dalam pandangan Islam, atau self-branding di media sosial.

Peran Sarjana: Melakukan Ijtihad dengan metodologi yang kuat (ushul fiqh) dan menyajikan hasilnya dalam format konten yang mudah dipahami, menarik, dan menjawab keresahan generasi muda. Ini adalah Ijtihad Kontemporer.

  1. Literasi Digital dan Tapis Informasi (Tabayyun 2.0)
    Media sosial rentan terhadap hoaks dan pemahaman agama yang dangkal (Post-Truth Era).

Peran Sarjana: Menjadi agen Tabayyun digital. Mampu menganalisis sumber informasi keagamaan yang beredar di media sosial, mengidentifikasi bias atau kesesatan, dan memberikan klarifikasi yang metodologis, santun, dan berbasis ilmu. Ini adalah tugas menjaga kemurnian ilmu di tengah hiruk pikuk digital.

  1. Dai yang Berempati dan Berpendekatan Psikologis
    Dakwah di media sosial menuntut pendekatan yang personal. Lulusan harus mampu memahami psikologi pengguna, menghindari toxic positivity atau justifikasi yang kaku.

Fokus Akidah: Menyampaikan nilai-nilai Islam yang Rahmatan Lil ‘Alamin, menyejukkan, dan memberikan solusi yang holistik—menggabungkan spiritualitas, mentalitas, dan sosial.

📚 STAI Mujtahadah: Pusat Pembinaan Ijtihad Digital
Kurikulum di STAI Mujtahadah dirancang untuk menghasilkan sarjana agama yang tidak kaget dengan perubahan zaman. Kami fokus pada:

Pendalaman Metodologi: Penguatan Ushul Fiqh, Tafsir, dan Hadis sebagai fondasi utama untuk melakukan analisis dan penarikan kesimpulan.

Pelatihan Multimedia Dakwah: Mahasiswa dibekali keterampilan membuat konten dakwah digital (desain, video pendek, penulisan blog Islami) yang berkualitas tinggi.

Diskusi Kontemporer: Mendorong seminar dan riset yang membahas isu-isu Islam dan teknologi, ekonomi syariah digital, dan etika komunikasi Islam.

🌟 Penutup: Misi Kita, Mencerahkan Dunia Maya!
Di tangan para sarjana STAI Mujtahadah, media sosial harus bertransformasi dari sekadar tempat hiburan menjadi madrasah digital yang mencerahkan.

Ijtihad bukanlah milik masa lalu; Ijtihad adalah semangat yang terus relevan, terutama saat kita membutuhkan petunjuk ilahi di tengah kompleksitas dunia maya.

Mari bergabung dengan STAI Mujtahadah. Jadilah Mujtahid masa kini yang membawa cahaya ilmu dan kearifan Islam ke setiap sudut ruang digital!

Categories:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *