Menjadi Mahasiswa “High-Value”: Mengapa Berpikir Kritis adalah Sunnah yang Sering Terlupakan?

Di era gempuran informasi dan berita palsu (hoaks) yang membanjiri grup WhatsApp dan feed media sosial, menjadi mahasiswa yang sekadar “pintar” tidaklah cukup. Kita butuh mahasiswa yang mampu memfilter informasi, atau dalam istilah akademiknya memiliki kemampuan Critical Thinking.

Menariknya, berpikir kritis bukan hanya tuntutan dunia kampus, melainkan perintah yang berulang kali disebut dalam Al-Qur’an melalui kalimat: “Afala tatafakkarun?” (Apakah kamu tidak berpikir?).

Berikut adalah cara bagaimana mahasiswa STAI Al-Mujtahadah bisa mengasah kemampuan berpikir kritis sebagai gaya hidup:

1. Budaya Tabayyun di Era Digital

Berpikir kritis dimulai dari Tabayyun. Seorang mahasiswa High-Value tidak akan mudah terpancing emosinya oleh sebuah judul artikel yang bombastis. Sebelum membagikan (share), ia akan bertanya: “Apakah ini valid? Apa sumbernya? Apa tujuannya?” Ini adalah bentuk paling nyata dari penerapan kecerdasan intelektual sekaligus ketaatan pada nilai agama.

2. Berani Bertanya “Mengapa”, Bukan Hanya “Apa”

Di kelas, jangan hanya menjadi “perekam” materi dosen. Mahasiswa yang berpikir kritis akan mencoba menggali lebih dalam. Jika kita belajar tentang hukum ekonomi syariah atau pendidikan Islam, bertanyalah: “Bagaimana prinsip ini bisa diterapkan untuk menyelesaikan kemiskinan di sekitar kita saat ini?” Menghubungkan teks kitab kuning dengan konteks sosial adalah keahlian yang sangat mahal harganya.

3. Keluar dari “Echo Chamber” (Ruang Gema)

Seringkali algoritma media sosial hanya menyuguhkan informasi yang kita sukai saja. Hal ini membuat pemikiran kita sempit. Cobalah untuk membaca buku atau pendapat dari sudut pandang yang berbeda. Diskusi di kantin atau koridor kampus STAI Al-Mujtahadah seharusnya menjadi ruang untuk bertukar ide secara sehat, bukan tempat untuk saling menghakimi pendapat.

4. Menulis sebagai Alat Pertajam Logika

Menulis adalah cara terbaik untuk melatih berpikir runtut. Dengan menulis satu artikel pendek atau jurnal harian, kita dipaksa untuk menyusun argumen yang logis. Mahasiswa yang terbiasa menulis akan memiliki pola bicara yang lebih tertata dan persuasif saat berada di depan forum.

Kesimpulan: Cerdas Berilmu, Santun Berperilaku

Di STAI Al-Mujtahadah, kita tidak hanya mencetak sarjana yang hafal teori, tetapi mujtahid-mujtahid muda yang berani berpikir jernih di tengah kekacauan informasi. Berpikir kritis membuat kita tidak mudah dimanipulasi dan menjadikan kita pemimpin yang bijaksana di masa depan.

Jadilah mahasiswa yang tidak hanya mengikuti arus, tapi mampu mewarnai arus tersebut dengan ilmu dan logika.

Categories:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *