Di zaman sekarang, gadget dan internet sudah jadi teman sehari-hari anak muda kita. Tapi, bagaimana caranya agar pendidikan Islam tetap relevan tanpa ketinggalan zaman?
Tantangan Utama Saat Ini
Pendidikan agama sering dianggap kuno karena kurang memanfaatkan teknologi, padahal tren 2025 justru menuntut integrasi AI dan e-learning untuk pembelajaran yang adaptif. Banyak guru PAI masih bergulat dengan waktu terbatas dan kompetensi digital, sehingga siswa lebih suka scroll TikTok daripada hafal surah.
Ini bukan soal menolak kemajuan, melainkan bagaimana nilai-nilai Islam seperti akhlak dan hikmah bisa “nyambung” dengan platform digital yang penuh distraksi.
Inovasi yang Sudah Terbukti
Beberapa lembaga mulai pakai LMS adaptif untuk mapping kemajuan siswa secara personal, sambil tanamkan etika digital sebagai bagian dari kurikulum Islami. Contohnya, pengajaran berbasis data membantu guru fokus pada kelemahan siswa tanpa mengorbankan esensi tauhid dan adab.
Pendekatan seperti ini sudah terlihat di berbagai TPQ dan pesantren modern, di mana anak-anak belajar Iqra via app sambil main game edukatif—menyenangkan tapi tetap membangun karakter.
Peran Pengabdian Masyarakat
Pengabdian jadi kunci: dosen dan mahasiswa turun ke lapangan, latih guru desa pakai hypnoteaching atau e-learning yang selaras dengan Revolusi Industri 4.0. Hasilnya? Mutu pendidikan naik, dari sekadar hafalan jadi pemahaman mendalam soal syariah di kehidupan nyata.
Kegiatan ini tak hanya bantu masyarakat, tapi juga latih generasi muda jadi da’i digital yang kreatif, seperti kolaborasi lintas negara via konferensi virtual.
Langkah Praktis ke Depan
Mulai dari hal kecil: guru bisa pakai AI untuk bikin materi interaktif, orang tua pantau anak via app keluarga, dan lembaga bangun kurikulum hybrid. Yang penting, jaga keseimbangan—teknologi hanyalah alat, iman tetap pondasi utama.


Leave a Reply