Media sosial jadi ladang subur radikalisasi lone-wolf dan pemuda, dengan narasi ekstremisme online menyasar komunitas rentan akibat kemiskinan dan celah pendidikan moderat. Kasus intoleransi seperti pembubaran ibadah paksa dan kekerasan berujung tewas makin marak, sementara Global Terrorism Index 2025 catat tren aman tapi stigma “terorisme Islam” picu polarisasi sosial. STAI Mujtahadah jawab tantangan ini lewat pendidikan Islam terpadu yang tanam moderasi dan literasi digital.
Hoaks Politik: Politikus vs Umat Moderat
Survei Reuters 2025 ungkap politikus dan influencer sumber hoaks terbesar, dorong perpecahan via deepfake dan disinformasi politik yang capai 64% hoaks Pemilu. Di Indonesia, hoaks campur isu agama perkuat intoleransi, tapi pendidikan PAI efektif cegah radikalisme via toleransi dan pemahaman inklusif. Program penelitian dan pengabdian STAI Mujtahadah dorong inovasi dakwah digital anti-hoaks, bentuk dai cerdas hadapi era AI.
Solusi Islami dari STAI Mujtahadah
STAI Mujtahadah cetak muslim moderat via kurikulum ilmu agama-modern, pengabdian masyarakat, dan riset keislaman yang lawan radikalisme struktural. Mahasiswa dilatih jadi agen damai: dialog antaragama, deradikalisasi komunitas, dan literasi hoaks berbasis iman. Kolaborasi dengan penyuluh agama nasional perkuat peran strategis santri 2025 lawan krisis moral digital.
Daftar sekarang di STAI Mujtahadah—jadi pahlawan iman yang selamatkan Indonesia dari radikalisme dan hoaks!


Leave a Reply